Jumat, 13 Mei 2016

Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Persepsi Masyarakat Adat tentang Konservasi di Suaka Margasatwa Mamberamo Foja (Studi pada Kampung Papasena Kabupaten Mamberamo Raya)


oleh: Yoseph Watopa

RINGKASAN
.

Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Mamberamo Foja dengan luas 2.018.000 ha, sebelum  penetapan statusnya sebagai kawasan konservasi telah ada kehidupan masyarakat adat yang menggantungkan hidupnya dari pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional dengan aturan adat yang berlaku termasuk kampung Papasena.  Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui dan mengidentifikasi pemanfaatan sumber daya alam masyarakat kampung Papasena di Suaka Margasatwa Mamberamo Foja; (2) menghitung dan menganalisa nilai ekonomi tempat-tempat penting masyarakat adat adat kampung Papasena di Suaka Margasatwa Mamberamo Foja; (3) mengkaji  Persepsi Masyarakat Kampung Papasena  tentang Konservasi dan Status Kawasan Konservasi Suaka Margasatwa Mamberamo Foja. Teknik pengambilan sampel melalui persentase yaitu 5% dari total populasi pada tahun 2015 sebanyak 620 orang sehingga sampel responden berjumlah 31 orang. Penentuan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling yaitu penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Metode analisa data digunakan metode pendekatan harga pasar (market price=MP) untuk menghitung manfaat langsung dan tidak langsung, metode kontingensi (contingensi valuation methode=CVM) untuk menganalisa kemauan membayar (WTP) pelestarian spesies buaya, burung cenderawasih dan lokasi sakral dan kemauan menerima (WTA) kompensasi kenaikan harga premi kayu dan bersedia kehilangan lokasi sakral. Analisa regresi linier berganda dilakukan untuk mengukur  variabel-variabel yang berpengaruh terhadap WTP dan WTA. Analisa persepsi responden tentang konservasi, kawasan konservasi dan kondisinya dilakukan melalui skala likert dan tabulasi yang disajikan dalam bentuk deskripsi dan grafik.
Hasil penelitian; kehidupan masyarakat adat kampung Papasena yang tinggal didalam kawasan SM Mamberamo Foja masih tergantung pada pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Identifikasi sumber pendapatan bagi masyarakat berasal dari kulit buaya, premi kayu per pohon, daging hasil berburu, sagu, pinang, ikan, pemanfaatan sungai sebagai sarana  transportasi yaitu ojek perahu dan adanya kegiatan penelitian yang dilakukan di kampung Papasena. Masyarakat memiliki pengetahuan tentang berbagai tipe lansekap dan hutan. Ada 11 tipe lanskap dan 5 tipe hutan menurut masyarakat Papasena. Kearifan lokal dalam penggunaan lahat terlihat dalam penggunaan lahan secara tradisional dengan sistem zonasi pemanfaatan tradisional dengan aturan adat yang tegas dan jelas.  Zonasi penggunaan lahan tradisional yaitu; 1) Aroki Arekapeake yaitu daerah larang dengan fungsi khusus sebagai daerah penyuplai ketersediaan hewan buruan, daerah persembunyian saat perang, daerah sumber air, daerah cerita asal usul nenek moyang, wilayah ini tertutup bagi umum; 2) Aiperara Awikeidjua yaitu daerah berkebun namun tertutup secara bagi masyarakat lain disebabkan pemiliknya telah meninggal, wilayah ini hanya dibuka atas ijin keluarga pemiliki dan dalam kurun waktu tertentu; 3) Aroki Aretiare yaitu daerah penyimpanan yaitu wilayah dengan luas tertentu yang dibuka oleh pemilik dari tiap klan; 4) Tataroki yaitu daerah mencari makan melalui kegiatan berburu binatang, berburu buaya, mencari ikan dan berkebun.
Nilai ekonomi sumber saya alam SM Mamberamo Foja di Kampung Papasena sebesar Rp. 9.687.224.398,33 / tahun yang terdiri dari nilai ekonomi langsung sebesar Rp. 1.348.700.000,00 (13,92%); nilai ekonomi tidak langsung Rp. 1.517.191.065,00/tahun (15.66%), nilai keberadaan sebesar Rp. 1.798.000.000,00 /tahun (18,56%) dan nilai warisan  sebesar Rp. 4.734.000.000,00  /tahun (48,87%) dan nilai pilihan sebesar Rp. 289.333.333,33/tahn (2,99%). Nilai ekonomi langsung dari kegiatan transportasi sungai berupa ojek perahu kini menjadi salah satu sumber penghasilan yang potensial bagi masyarakat selain mencari kulit buaya yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian utama. Komuditas pinang mengalami peningkatan permintaan sejalan dengan semakin banyaknya konsumen pinang di ibu kota Kasonaweja dengan harga yang cukup tinggi.  Nilai ekonomi tidak langsung dari hutan lindung adat sebagai penyerap karbon merupakan nilai konservasi yang perlu dilestarikan.  Nilai keberadaan yang diperoleh dari WTP  spesies buaya dan burung cenderawasih dan nilai warisan dari WTP lokasi sakral dan merupakan nilai non guna (non use value) yang besar nilainya dibanding dengan nilai guna (use value) . Hal ini menunjukkan adanya  indikasi kesediaan masyarakat terlibat dalam upaya pelestarian bagi kegiatan konservasi spesies dan lokasi sakral tempat-tempat penting mereka. Nilai  pilihan WTA kenaikan harga premi pohon lebih kecil dari nilai warisan WTP lokasi sakral dan nilai WTP buaya dan burung cenderawasih memberi gambaran bahwa masyarakat masih memilih untuk mempertahankan pohon dan hutan mereka bagi generasi yang akan datang.
Respon terhadap kemauan membayar (WTP1) bagi pelestarian spesies buaya dan burung cenderawasih sebesar Rp. 241.666,67 ./per bulan. Secara signifikan WTP1 dipengaruhi oleh variabel pendidikan dan pendapatan hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan dan pendapatan semakin besar keinginan untuk membayar bagi pelestarian buaya dan burung cenderawasih. Respon terhadap kemauan membayar (WTP2) bagi pelestarian lokasi sakral sebesar Rp. 636.290,32/bulan. WTP 2 secara signifikan dipengaruhi oleh variabel pendapatan dan lama tinggal yang berarti semakin tinggi pendapatan dan semakin lama seseorang tinggal di kampung mempengaruhi keinginan untuk membayar bagi pelestarian lokasi sakral. Respon terhadap kamauan menerima (WTA) kompensasi kenaikan harga premi kayu perpohon dan bersedia kehilangan lokasi sakral sebesar Rp. 38.888,89/bulan. WTA secara signifikan dipengaruhi oleh variabel pekerjaan yang berarti semakin bervariasi tingkat pekerjaan  dan atau semaikn baik tingkat pekerjaan seseorang mempengaruhi kemauannya untuk menerima kompensasi kenaikan harga premi kayu.
Persepsi responden tentang konservasi dan kawasan konservasi SM Mamberamo Foja tinggi artinya responden pernah mendengar istilah konservasi, kawasan konservasi, tahu bahwa kampung berada didalam kawasan dan memilki pemahaman yang baik mengenai keberadaan spesie buaya dan burung cenderawasih yang dilindungi. Responden secara keseluruhan atau 100% responden menyatakan bahwa kondisi kawasan SM Mamberamo Foja di kampung Papasena masih sangat baik.
Hasil  penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan bagi penelitian valuasi ekonomi lainnya di kawasan konservasi SM Mamberamo Foja dan hasilnya dapat digunakan bagi pengelolaan dan pendekatan terhadap masyarakat adat yang ada didalam kawasan  SM Mamberamo Foja.

DAFTAR PUSTAKA

Bahruni. 1999. Diktat Penilaian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Bappenas. 2010. Rancangan Strategi Nasional REDD +. Bappenas Jakarta.
Bishop, J.T. 1999. Valuing Forests : A Review of Methods and Applications in Developing Countries. International Institute for Environment and Development. London.
Boissiere, M. M,Van Heist. D, Sheil. I, Basuki. S,Frazier. U,Ginting. M,Wan. B, Hariadi. H, Haryadi. H,D, Kristianto. J,Bemei. R,Haruway. E,Marien. H,Koibur. Y,Watopa. I. Rachman dan N, Liswanti.2004.  Pentingnya Sumberdaya Alam bagi Masyarakat Lokal di Daerah Aliran Sungai Mamberamo, Papua, dan Implikasinya bagi Konservasi. Journal of Tropical Ethnobiology  1  (2) : 76 – 95
Conservation International . 1999. The Irian Jaya Biodiversity Conserservation Priority-Setting Workshop Final Report.
Conservation International, Washington, DC, USA.p.20-36.
Conservation Internasional. 2006. Rappid Assessmetn Programe (RAP) 
Conservation International, Washington, DC, USA.
Bulletin of Biologicall assessment(26) : 17-19.
Conservation Internatioan. 2006. Peta Partisipatif Penggunaan Lahan Kampung Papasena. Conservation International Papupa Program. Jayapura
Cox. J. H. 2010 New Guinea Freswater Crocodile Crocodylus novaeguneae Status Survey and Conservation Action Plan. Third Edition, ed. by S.C. Manolis and C. Stevenson. Crocodile Specialist Group: Darwin.
de Fretes, Y. 2007. Kawasan Konservasi dan Pengelolaannya dalam Ekologi Papua.
Yayasan Obor Indonesia dan Conservation International.  p. 790-817.
Duwi. 2012. Uji Data Kuisioner dengan SPSS. http://duwiconsultan.blogspot.com
Fauzi, A., Suzi Anna, Lis Diatin, Irmadi Nahib, Intan Adhi Putri. 2007. Studi Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan di Kawasan Lindung. Laporan Akhir.
Kementerian Lingkungan Hidup.
Fauzi A dan S. Anna. 2005. Studi Valuasi Ekonomi Perencanaan Kawasan Konservasi Selat Lembeh, Sulawesi Utara. Jakarta : USAID, DKP, dan Mitra Pesisir.
Ika J. 2014. Konservasi Kearifan Lokal Pengelolaan Ikan Asap sebagai Produk Wisata di Kabupaten Situbondo.Tesis.
          Universitas Brawijaya Malang. p.54-54
Kurniati. H. 2002. Spotlight Surveys of New Guinea Freshwater Crocodile (Crocodylus novaeguineae) in Mid-Zone Mamberamo River (Mamberamo and Roufaer System) In Papua Province. Zoo Indonesia. LIPI. (29) : 1-19
Liswanti, N. Indawan,A. Sumardjo dan Sheil. 2004. Persepsi Masyarakat Dayak Merap Dan Punan Tentang Pentingnya Hutan Di Lansekap Hutan Tropis, Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur.
Jurnal Manajemen Hutan Tropika 10 (2)  : 1-13
Luky Adrianto. Mujio dan Yudi Wahyudin. 2004. Modul Pengenalan Konsep dan Metodologi Valuasi Ekonomi Sumberdaya Pesisir dan Laut. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut, Institud Pertanian Bogor.
Mahesi.V. 2008. Valuasi Ekonomi Sumber Daya Alam Kebun Raya Cibodas.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Mitchel, B. Setiawan, B. Rahmi H,D 2010. Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan.
Gajah Mada University Press.p.82-83
Moeliono, M. G. Limberg. P, Minigh. A,Mulyana. Y, Indriatmoko. N,A, Utomo. Saparuddin,Hamzah. R, Iwan. danE, Purwanto. 2010 Meretas kebuntuan: konsep dan panduan pengembangan zona khusus bagi Taman Nasional di Indonesia.
CIFOR, Bogor, Indonesia.p.2-3
Mukhamadun, T.Efrizal dan S. Tarumun 2008. Valuasi Ekonomi Hutan Ulayat Buluhcina Desa Buluhcina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Universitas Riau.
Jurnal Ilmu Lingkungan 3 (2) : 55-73
Munasinghe.M. 1993. Environmental Economics and Sustainable Development. The International Bank for Reconstruction and Development/The World Bank
Washington, D.C. 20433, U.S.A. p. 32.
Navrud S dan E.D.Mungatana. 1994. Environmental Valuation in Developing Countries: The Recreational Value of Wildlife Viewing. Ecological Economics
Navrud S. 2000. Strenths, Weaknesses and Policy Utility of Valuation Techniques and Benefit Transfer Methods. Invited Paper for the OECD-USDA Workshop The Value of Rural Amenities: Dealing With Public Goods, Non-market Goods and Externalities, Washington D.C. Department of Economics and Sosial Sciences, Agricultural University of Norway
Nurrochmat R.D. 2006. Dasar-dasar Valuasi Ekonomi. [Diktat Kuliah]. Bogor : Lab. Politik Ekonomi dan Sosial Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.
Padmanaba, M., M, Boissière.Ermayanti, H, Sumantri. dan R, Achdiawan. 2012. Pandangan tentang perencanaan kolaboratif tata ruang wilayah di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua,Indonesia: Studi kasus di Burmeso, Kwerba, Metaweja, Papasena dan Yoke..
CIFOR, Bogor.Laporan Penelitian. p.12.
Pattiselanno F. 2003. Some fruit bats (Chiroptera, Pteropodidae) of the Mamberamo River Basin, West Papua, Indonesia.
The Asian Internatioanl Journal of Sciences.Asia Life Sciences 12 (1): 45-56
Pearce, D.W dan Kerry Turner. 1991. Economics of Natural Resources and The Environment Harvester Wheatsheaf.
Pearce, D.W dan D. Moran, 1994.The Economic Value of Biodiversity.IUNC. Earthscan Publication, London.
Richards, S. J. dan S. Suryadi. 2002. A Biodiversity Assessment of Yongsu - Cyclops Mountains dan the Southern Mamberamo Basin, Papua, Indonesia..
Conservation International, Washington, DC, USA.RAP Bulletin of Biological Assessment (25) : 27- 43.
Sheil,D. R,K,Puri. I, Basuki. M, van Heist. M, Wan. N, Liswanti. Rukmiyati , M, Agung. Sardjono, I, Samsoedin.K, Sidiyasa. Chrisandini.E, Permana. E,A, Mangopo. R, Gatzweiler. B, Johnson  dan A, Wijaya. 2004. Mengekspolari Keanekaragaman Hayati, Lingkungan dan Pandangan Masyarakat Lokal tentang berbagai Lansekap.
          CIFOR.Bogor. p.2-8.
Watopa, Y. 2004. Multidisciplinary Landscape Assesstmen (MLA) di Kampung Papasena Mamberamo. Laporan Penelitian.
Conservation International Papua Program.Jayapura.
Watopa, Y. 2006. Sustainable Use Option Plan;Pilihan Rencana Pemanfaatan Hasil Alam Berkelanjutan di Mamberamo. Laporan Penelitian.
Conservation Internatioanal  Indonesia Papua Program. Jayapura.  p.12-15.
Watopa, Y. Susan Maniagasi, Victor Ginuni, Richard Warinussa, Mathan Waroy, Mathius Kooh dan Tommy Wakum. 2013. Perencanaan Kolaboratif Tata Ruang Kabupaten Mamberamo Raya, Perspektif Masyarakat Adat Kampung Suaseso. Laporan Penelitian
Conservation International Indonesia Papua Program. Jayapura.
Widodo.D.A.T., Prabang Setyono dan I Gusti Ayu KRH. 2014 Program  Pemberdayaan Masyarakat Di Desa Tarubatang Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali Dalam Rangka Peningkatan Nilai Tambah Ekonomi Dan Daya Dukung Lingkungan Di Taman Nasional Gunung Merbabu
Jurnal Ekosains  2 (4) :  26-38


Tidak ada komentar:

Posting Komentar